Senin, 1 Juni 2009 14:46 WIB News Share :

Bupati Purbalingga tolak pembangunan Carrefour

Purbalingga–Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko menyatakan menolak pembangunan Carrefour dan hipermarket sejenisnya di lokasi bekas “Pasar Kota” Purbalingga (pasar lama) karena dianggap tidak berpihak terhadap ekonomi kerakyatan.

Hal tersebut disampaikan Triyono Budi Sasongko saat “soft opening” atau pembukaan Pasar Segamas (Segitiga Emas) di Purbalingga, Jawa Tengah, Senin (1/6)

Bahkan dalam pembangunan Pasar Segamas, kata dia, pihaknya sengaja tidak melibatkan investor karena dikhawatirkan harga jual atau sewa kios akan memberatkan para pedagang yang berjualan di tempat tersebut.

“Dengan melihat pengalaman di berbagai kabupaten, pasar yang digarap investor pada akhirnya akan memberatkan pedagang. Oleh karenanya, untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan, pemkab membangunnya sendiri,” katanya.

Menurut dia, pembangunan Pasar Segamas di atas lahan seluas 5 hektare dan luas bangunan 18.560 meter persegi tersebut menelan biaya sebesar Rp21,7 miliar yang sepenuhnya ditanggung APBD Kabupaten Purbalingga dengan dukungan APBD Provinsi Jawa Tengah.

Selain itu, kata dia, dari dana yang dikeluarkan sebesar Rp 21,7 miliar tersebut, yang yang kembali ke kas daerah sebagai biaya “service charge” hanya Rp 7,9 miliar.

Terkait pembangunan pasar terbesar di Jawa Tengah bagian selatan tersebut, Triyono Budi Sasongko mengatakan, Pasar Segamas memiliki konsep sebagai pasar tradisional modern.

Menurut dia, pasar tersebut tidak hanya ditujukan bagi pembeli yang berasal dari Purbalingga, tetapi juga warga di sekitarnya seperti Banyumas, Pemalang, dan Banjarnegara.

“Jika mengunjungi Pasar Segamas, kita terasa seperti berada di Pasar Mangga Dua, Jakarta,” ujarnya.

Ia mengatakan, pasar ini tidak sekadar menjual barang-barang kelontong maupun kebutuhan rumah tangga, tetapi juga jajanan khas Purbalingga, pupuk, dan kebutuhan masyarakat lainnya, katanya.

Meski demikian, dia mengakui, pembangunan pasar tersebut belum sempurna karena masih banyak fasilitas yang perlu ditambah seperti pasar buah, pasar hewan, pasar kayu, dan fasilitas pengolahan sampah.

Menyinggung keberadaan lahan pasar lama (Pasar Kota Purbalingga, red), dia mengatakan, di atas lahan seluas 1,2 hektare tersebut akan dijadikan “Purbalingga City Park” atau taman kota yang diharapkan dapat selesai pada Desember mendatang.

Ant/tya

lowongan pekerjaan
PT SAKA JAYA ENGGAL CIPTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Masyarakat Tertutup Era Keterbukaan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (9/10/2017). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id. Solopos.com, SOLO–Masyarakat tertutup mempertahankan keberadaannya melalui ketaatan mutlak kepada perintah yang diyakini benar, terlepas dari apakah kebenaran itu sudah diuji…