Minggu, 31 Mei 2009 12:53 WIB Internasional Share :

Obama upayakan awal baru dengan dunia muslim

Washington–Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, akan melakukan kunjungan ke pusat peradaban Arab-Muslim pekan ini, untuk memulai tugas besar melepaskan ketidak percayaan AS terhadap dunia Islam.

Di Mesir, Kamis depan, Obama akan menyampaikan pidato pribadi kepada dunia Muslim, memanfaatkan hubungan leluhurnya dengan Islam dan mengglobalkan pesan perubahannya dalam satu pidato yang kaya dengan merek dagang ambisi politik.  

Kunjungan Obama pekan depan ke Mesir, Arab saudi dan menghadiri peringatan Perang Dunia II di Prancis dan Jerman, terjadi pada saat beberapa pengamat mengendus adanya peluang di tengah krisis Timur Tengah tanpa henti.

Namun sebagian lainnya hanya melihat bahaya, dengan adanya  konflik antara Washington dan Israel berkaitan dengan pemukiman Yahudi, serta tak kunjungan berakhirnya masalah nuklir Iran.

Obama menargetkan rekonsiliasi dengan Islam dan memperkuat diplomasi Timur Tengah dari sejak awal pemerintahannya.

“Kepada dunia muslim, kami berusaha mencari cara baru yang lebih maju, berdasarkan saling kepentingan dan menghargai,” kata Obama dalam pidati pelantikannya Januari lalu.

Dia segera menghubungi pemimpin Palestina, Mahmud Abbas, dan berbicara dengan jaringan satelit Al Arabiya.

Obama membuat rekaman video yang tak pernah terjadi sebelumnya yang ditujukan kepada rakyat Iran, dan menjamin kembali kepada dunia muslim bahwa AS tidak berperang dengan mereka, dari parlemen Turki.

Persinggahan pertama dari lawatannya itu, yakni pada Rabu, adalah Arab Saudi, untuk berbicara dengan Raja Abdullah, untuk meminta dukungan Arab bagi upaya-upaya perdamaian AS.

Namun, sorotan tajam akan diarahkan pada pidatonya di Universitas Kairo, yang diselenggarakan bersama oleh Universitas Al Azhar, perguruan tinggi Islam tertua.

Obama diduga akan melakukan retorika karismatiknya, yang membantu menjadikan dirinya sebagai presiden, untuk membalut ketidak percayaan secara luas di kawasan Timur Tengah terhadap AS.

“Saya ingin menggunakan kesempatan itu dengan menyampaikan pesan secara luas mengenai bagaimana AS bisa berubah untuk menjadi lebih baik, dalam hubungan-hubungannya dengan dunia Islam,” kata Obama pekan lalu.

Dalam pidato-pidato besarnya, Obama menyulam biografi pribadinya yang menawan ke dalam satu cerita politik, seperti yang dilakukan dalam pidato terbukanya pada 2008 mengenai ras.

Di Mesir, Obama akan merujuk kepercayaan Islam pada beberapa keluarganya dari pihak ayah di Kenya, masa tinggal sementara di Indonesia semasa bocah, dan kontak-kontaknya dengan masyarakat muslim di Illinois.

“Presiden secara pribadi berpengalaman dengan Islam, di tiga benua sebelum dia bisa mengunjungi pusat dunia Islam,” kata penasehat kebijakan luar negerinya, Denis McDoniugh.

Citra AS di dunia Muslim telah ternoda oleh serangan AS ke Irak, terhambatnya harapan-harapan rakyat Palestina untuk memiliki negara sendiri, dan sikap pemerintahan Bush dalam serangan-serangan Israel di Lebanon dan Gaza.

Pada tahun 2004, satu survei yang dilakukan oleh WorldPublicOpinion.org., yang berbasis pada Universitas Maryland, mendapati hanya empat persen dari rakyat Mesir yang mempunyai pendapat baik terhadap AS.

Satu jajak pendapat umum McClatchy/Ipsos pada bulan ini mendapati bahwa hanya 33 persen dari mereka yang disurvei di enam negara Arab, mempunyai pendapat bagus terhadap Amerika.

Namun, peringkat sambutan baik terhadap AS dibawah Obama mencapai 26 persen di Kuwait, 22 persen di Jordani, 18 persen di Uni Emirat Arab, 15 persen di Arab Saudi, 13 persen di Mesir dan 11 persen di Lebanon.

Angka-angka dukungan itu mengisyaratkan bahwa Obama mungkin bisa menjadi pembawa pesan yang ideal.
Ant/tya

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…