Kamis, 28 Mei 2009 19:17 WIB Solo Share :

Trah Mbah Hadi sebagai ahli pawukon Jawa terputus

Solo (Espos)–Nama dan jasa Mbah Hadi kini tinggal sebuah kenangan. Ratusan warga yang mengiring pemakaman Mbah Hadi ke liang lahat, Kamis (28/5) pukul 14.00 WIB itu, seakan ikut melepas segala keahlian dan jasa Mbah Hadi selama ini di bidang penghitungan dan perwatakan Jawa yang cukup mumpuni.

Hadir dalam acara proses pemakaman itu, Wakil Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo dan sejumlah pejabat Pemkot, serta handai tauland Mbah Hadi di Yogyakarta dan putera bungsunya yang tinggal di Jakarta, Ir Purwanto MM. Sementara itu, adik kandung Mbah Hadi yang tinggal di Jerman, Ny Henning akan hadir pada malam ke-40 harinya Mbah Hadi.

Seorang dari Keraton Kasunanan Surakarta, KRA Winarno Kusumo yang diutus untuk mengungkapkan belasungkawa mendalam kepada keluarga Mbah Hadi kala itu dengan terang mengatakan, satu-satunya ahli pawukon Jawa di Solo yang cukup mumpuni ialah Mbah Hadi atau KRH Darmodipuro.

“Meski banyak ahli pawukon di Solo, namun Mbah Hadi adalah satu-satunya ahli pawukon jawa yang legitimasinya diakui masyakarat luas,” ujarnya saat ditemui Espos seusai mengungkapkan belasungakwanya kepada keluarga dan ratusan pelayat siang itu.

Sayang, keahlian yang dimiliki Mbah Hadi itu harus berhenti sebagai cerita. Para keluarganya, menantunya, cucu-cucunya, bahkan kedua puteranya pun ternyata tak satu pun yang mewarisi ilmu dan bakat yang dimiliki Mbah Hadi sebagai ahli pawukon Jawa.

asa

LOWONGAN PEKERJAAN
PT.NSC FINANCE, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…