Rabu, 27 Mei 2009 19:08 WIB Solo Share :

Sebelum meninggal, Mbah Hadi sudah pesan papan nama dua bulan lalu

Solo (Espos)–Pelataran rumah di Jalan Kiai Mojo RT 04/ RW V Semanggi Pasar Kliwon itu mendadak berdiri tenda berkalung kain duka. Sebuah ruangan berukuran 3×4 meter dalam kondisi pintu tertutup.

Di dalamnya berserak buku-buku lawas yang penuh hitungan penanggalan Jawa kuno. Di ruangan itulah, seorang ahli pawukon Jawa biasa membuka praktek ruwatan selama puluhan tahun. Namun, sejak Rabu Kliwon (27/5) siang, aktifitas ruwatan di ruangan itu tak akan dijumpai lagi. Karena, ahli pawukon Jawa itu, KRH Darmodipuro atau biasa disapa Mbah Hadi telah pergi untuk selamanya.

“Bapak meninggal di usianya yang ke-71 tahun. Dia menderita jantung dan sesak napas. Apalagi sejak jatuh di dapur sebulan lalu, kondisi kesehatannya terus menurun,” papar putera bungsu Mbah Hadi, Suharyadi saat ditemui Espos di sela-sela kesibukannya menyambut para tamu yang turut berbelasungkawa atas meninggalnya ayahnya.

Sungguh, kepergian Mbah Hadi telah meninggalkan duka mendalam bagi kedua puteranya, keluarganya, handai-taulanyanya, serta orang-orang yang mencintainya. Tak ada yang menyangka bahwa kepergian Mbah Hadi siang pukul 13.45 WIB itu ternyata tak meninggalkan sepucuk pesan apapun, termasuk kepada anak bungsu dan seorang menantunya yang merawatnya setiap hari itu.

Mbah Hadi, di mata tetangga dan keluarganya, ialah sosok yang sederhana dan terkenal murah hati. Bahkan, terhadap orang yang berbuat jahat kepada dirinya pun, kata mereka, Mbah Hadi tetap tak berubah sebagai sosok yang bermurah hati.

Sosok yang pernah menjadi Ketua Museum tertua di Indonesia Radya Pustaka Solo selama puluhan tahun itu, rencananya, akan dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) Danyung Daksimoloyo, Grogol Sukoharjo pukul 14.00 WIB bersama makam keluarga Mbah Hadi lainnya.

Jauh hari sekitar dua bulan silam sebelum kepergian Mbah Hadi, ternyata telah ada isyarah atas kepergiannya itu. Di salah satu sudut ruangan rumahnya, sebuah papan nama untuk tanda makam tergeletak. Papan nama itu bertuliskan KRH Darmodipuro yang dipesan oleh Mbah Hadi sendiri.

Aries Susanto

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…