Rabu, 27 Mei 2009 20:19 WIB Klaten Share :

Petani di Jatinom kembangkan penerapan teknologi Tabela

Klaten (Espos)–Petani di Kecamatan Jatinom mengembangkan penerapan teknologi tepat guna tanam benih langsung (Tabela). Awalnya, pada Juli 2008, teknologi itu baru dilaksanakan oleh satu kelompok tani (KT) di Kecamatan Jatinom yaitu KT Marsudi Tani di Desa Jemawan.

Demikian disampaikan dua Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kecamatan Jatinom, Umayah dan Widodo SP saat ditemui Espos, Rabu (27/5), di ruang kerjanya.

“Jatinom pada tahun 2009 ini mengembangkan penerapan teknologi tepat guna Tabela. Awalnya, pada tahun 2008 baru satu kelompok tani yang menerapkan sistem tersebut. Sedangkan pada tahun ini, 16 kelompok tani sudah menggunakan sistem itu,” kata Umayah.

Umayah mengatakan, sistem Tabela dipelopori oleh Tenaga Harian Lepas (THL) Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (TBPP) yang bertugas di Kantor Cabang Dinas Pertanian Kecamatan Jatinom. Ke-16 KT yang menerapkan sistem Tabela itu, kata Umayah, berasal dari desa yang memiliki area persawahan di antaranya Puluhan Pandeyan, Bonyokan, Krajan, Glagah, Cawan, Gedaren, Jemawan dan Mranggen.

Widodo sendiri menuturkan, petani tertarik memakai sistem Tabela karena dinilai lebih efektif dan efisien. Dijelaskan dia, ada banyak kelebihan yang diperoleh petani yang menggunakan sistem Tabela.

“Antusias petani untuk memakai sistem Tabela sangat tinggi. Petani tertarik dengan sistem itu karena banyak kelebihannya,” ucap Widodo. Beberapa kelebihan dari sistem Tabela yang disampaikan Widodo yaitu petani tidak perlu melakukan persemaian yang membutuhkan waktu 21 hari, tidak perlu ada pendawudan (pencabutan benih) dan bibit yang dibutuhkan lebih irit.

Dia mengemukakan, apabila petani menggunakan sistem Tabela bibit yang dibutuhkan yaitu sekitar 17,5 kg/hektare sedangkan jika lewat persemaian membutuhkan bibit 25 kg/hektare.
Selain itu, kata Widodo, biaya yang dibutuhkan saat penanaman pada sistem Tabela hanya Rp 375.000/hektare. Adapun pada penanaman dengan pola biasa yang dilakukan petani memerlukan biaya Rp 500.000/hektare.

Widodo menyampaikan, hasil yang diperoleh petani dengan sistem Tabela pun lebih banyak jika dibandingkan dengan cara yang biasa. Yaitu gabah kering panen (GKP) yang dihasilkan cara tanam biasa sekitar 8,3 ton/hektare sedangkan dengan sistem Tabela kurang lebih 10,7 ton/hektare.

“Alat Tabela dijual dengan harga lima ratus ribu rupiah. Sekarang banyak permintaan dari petani di luar Kecamatan Jatinom untuk dibuatkan alat Tabela. Peralatan itu sendiri antara lain dibuat dari pipa paralon, kayu dan sekrup,” terang Widodo.

nad

lowongan pekerjaan
PT. BPR Bina Langgeng Mulia, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…