Senin, 25 Mei 2009 15:58 WIB News,Feature,Boyolali,Hukum Share :

Polisi lacak keberadaan mayat Dwi

Boyolali (Espos)–Penyidik Kepolisian Resor (Polres) Boyolali bertindak cepat menindaklanjuti pengakuan tersangka Prakas Agung Nugroho  dengan melacak langsung keberadaan mayat korban Dwi Suparno ke Parangtritis, Yogyakarta, Senin (25/5). Polres membentuk tiga tim untuk mengusut kasus pembunuhan yang menggegerkan Kota
Susu ini.

Satu tim diterjunkan untuk mencari jasad korban bersama tersangka. Tim ini juga akan berkoordinasi dengan aparat kepolisian di Parangtritis untuk memperoleh kebenaran pengakuan tersangka.

“Hari ini tersangka kami keler ke Yogyakarta untuk mengungkap TKP (tempat kejadian perkara) pembuangan mayat Dwi. Juga untuk berkoordinasi dengan kepolisian setempat,” ungkap Kapolres Boyolali, AKBP Agus Suryo Nugroho melalui Kasat Reskrim, AKP Asnanto, di ruangannya.

Berdasarkan koordinasi sementara dengan aparat kepolisian Parangtritis, Yogyakarta, lanjut Kasat, memang ditemukan mayat yang diduga korban
pembunuhan. Namun jumlahnya lebih dari satu.

Prakas ikut dibawa dalam pencarian, lanjut Kasat, untuk memastikan kebenaran mayat korban. Tim penyidik pun membawa foto korban semasa hidup untuk
memudahkan pencarian.

Lebih lanjut, Kasat mengungkapkan, pihaknya terus mengembangkan penyidikan yang mengarah oada kemungkinan adanya korban lain. Namun sejauh ini, ujarnya, hasil penyelidikan belum ada yang mengarah pada adanya korban
tambahan.

“Tersangka mengaku hanya membunuh dua orang saja. Namun masih kami dalami,” lanjutnya.

Diutarakannya, penyidik sempat tertipu dengan pengakuan tersangka yang mengatakan Dwi ikut terlibat dalam aksi pembunuhan terhadap Gilang. Penyidik sempat menggerebek rumah kediaman Dwi di Karangturi RT 02/RW VI, Mudal,
Boyolali Kota.

Setelah mendapat penjelasan dari orangtua korban dan beberapa warga setempat, baru diketahui bahwa tesangka berbohong. Menurut keterangan orangtua korban, Cipto Sutarno, Dwi sudah tidak lagi pulang sejak tahun
1999. Sebelum ada penggerebekan, orangtua dan keluarga korban tidak mengetahui bahwa Dwi sudah tewas di tangan pembunuh berdarah dingin asal Kampung Belakan, Siswodipuran, Boyolali Kota itu.

Setelah didalami, akhirnya tersangka mengaku telah membunuh Dwi dengan cara diracun.

Sementara dari hasil otopsi sementara terhadap mayat korban Gilang Setiawan, diketahui korban mati lemas akibat gangguan pernapasan. Menurut Kasat,
korban Gilang dibunuh dengan cara dibekap mulut dan hidungnya menggunakan selimut sebelum akhirnya dikubur.

“Setelah menenggak Miras yang sudah diberi racun korban  korban tertidur, kemudian dipukul pakai pacul korban ngorok. Karena takut ketahuan tetangga, tersangka membekap korban dengan selimut selama empat sampai lima menit,” paparnya.

Dari otopsi itu juga diketahui beberapa bagian tubuh korban mengalami siancitis yakni bagian tubuh membiru. Polisi masih menyelidiki apakah siancitis itu disebabkan korban diracun.

kha

LOWONGAN PEKERJAAN
WEDHANGAN GULO KLOPO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…