Jumat, 22 Mei 2009 11:38 WIB Feature,News Share :

Peneliti
Pengetahuan masyarakat tentang gempa masih rendah

Yogyakarta—–-Pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran masyarakat tentang gempa bumi masih rendah, padahal Indonesia merupakan daerah yang rawan terlanda bencana alam tersebut.

“Lebih dari 60 persen wilayah Indonesia yang meliputi 250 kabupaten/kota berpotensi mengalami gempa bumi,” kata peneliti kegempaan dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Prof Ir Sarwidi MSCE PhD, Jumat (22/5).

Ia mengatakan, sebagian besar wilayah kepulauan Indonesia berpotensi terjadi gempa bumi karena terletak pada pertemuan tiga lempeng aktif dunia.

Kondisi itu, menurut dia, secara tidak langsung menuntut masyarakat Indonesia untuk mengetahui lebih dalam mengenai masalah kegempaan sebagai upaya menghadapi ancaman bencana gempa bumi.

Pengetahuan kegempaan dapat diperoleh dari pengalaman kejadian gempa bumi baik yang ada di dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa negara yang pernah atau sering mengalami gempa tidak sedikit yang mampu memunculkan ide brilian dalam menghadapi bencana tersebut.

“Berdasarkan hal itu, diperlukan strategi pembelajaran untuk memberikan pengetahuan kegempaan kepada masyarakat sehingga dapat lebih siap dalam menghadapi bencana yang akan datang,” kata Sarwidi yang juga Wakil Rektor I UII itu.

Sementara itu, Ketua Program Pascasarjana Magister Teknik Sipil UII Dr Ir Dradjat Suhardjo mengatakan, pengetahuan masyarakat tentang gempa dan kesiapsiagaan untuk merespons ancaman bencana masih kurang, sehingga perlu ditingkatkan antara lain melalui sosialisasi.

“Sosialisasi harus terus dilakukan karena masyarakat mudah lupa dengan kejadian gempa bumi. Melalui sosialisasi secara intensif diharapkan masyarakat memiliki kesiapsiagaan yang memadai dalam menghadapi ancaman gempa,” katanya.

Sehubungan dengan hal itu, Program Pascasarjana Magister Teknik Sipil UII akan menyelenggarakan seminar internasional refleksi tiga tahun gempa Yogyakarta untuk antisipasi bencana di masa datang.

“Bencana gempa bumi berkekuatan 5,9 Skala Richter yang melanda DIY dan Jateng tiga tahun lalu mengakibatkan lebih dari 6.000 korban jiwa, 80.000 korban luka, dan berbagai kerusakan fisik dan nonfisik,” katanya.

ant/fid

PT. SAGO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply



Kolom

GAGASAN
Kemanusiaan Keluarga Polk

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/9/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, seorang novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO¬†— Persekusi terhadap warga Rakhine etnis Rohingya di Myanmar…