Kamis, 21 Mei 2009 17:26 WIB Boyolali Share :

Sejumlah warga minta agar tanahnya dipakai untuk perluasan bandara

Boyolali (Espos)–Sejumlah warga RT 1/VIII Dukuh Kanoman, Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak, meminta PT Angkasa Pura I Bandara Adisoemarmo Solo, membeli tanah pekarangan dan bangunan mereka yang tak terkena perluasan area Bandara.

Sebab jika tidak, mereka mengaku akan menemukan kesulitan menjalankan aktivitas ekonomi dan bermasyarakat, karena keberadaan tempat tinggal mereka berubah terlebih setelah jalan penghubung Desa Gagaksipat-Pasar Mangu kini mati karena tertutup pagar Bandara.

Salah satu warga RT 1/VIII Kanoman, Hadi Marwanto, 49, menyebutkan, sebagian besar lahan pekarangan dan bangunan di Kanoman terkena perluasan Bandara. Namun terdapat sekitar 10 bangunan tempat tinggal yang terbebas dari perluasan. Sebaiknya, kata ia, seluruh bangunan warga lain tersebut juga dibeli Bandara. Jika tidak, warga bakal menemukan kesulitan menjalankan aktivitas ekonomi dan bermasyarakat.

“Saya lebih memilih tanah pekarangan dan bangunan tempat tinggal dibeli untuk perluasan Bandara, ketimbang tetap tinggal di sini,” katanya, ditemui Espos, di Gagaksipat, Kamis (21/5).

Pasalnya, ia melanjutkan, jika tetap tinggal di Kanoman ia akan menemukan kesulitan menjalankan aktivitas perekonomian setelah jalan penghubung Desa Gagaksipat-Pasar Mangu mati karena tertutup pagar Bandara.

Selain itu, kata Hadi, ia akan mengalami perubahan sosial kemasyarakatan karena sebagian besar tetangga yang berada di RT 2/VIII hampir separuh tergusur.

Hadi memprediksi ke depan harga tanah di RT 1 bakal anjlok, karena keberadaannya tidak lagi strategis setelah terkepung pagar Bandara yang berada di depan dan belakang pekarangan.
Untuk itu, sebelum apa yang dikhawatirkan betul-betul terjadi, ia meminta PT Angkasa Pura I merespons permintaan warga.

dwa

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…