Kamis, 21 Mei 2009 20:50 WIB Sragen Share :

Puluhan pangkalan minyak kena semprit Pemkab

Sragen (Espos)–Puluhan pangkalan Minyak Tanah (Minah) yang tersebar di Sragen terkena semprit alias teguran dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen. Upaya teguran dilakukan, lantaran disinyalir sejumlah pangkalan menjual harga Minah jauh melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni Rp 2.950 per liter.

Menurut Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perpajakan Daerah, Rinhandayani penjualan harga Minah di atas HET mulai marak sejak bergulirnya isu konversi di Bumi Sukowati. Berasarkan pantauan dan informasi yang dihimpun pihaknya, sejumlah pangkalan yang terkena semprit karena menjual Minah mencapai Rp 4.000 per liter.

“Kira-kira ada 10 pangkalan Minah yang kami tegur. Teguran baru sebatas lesan. Pantauan tetap kami lakukan sampai berlangsungnya konversi. Seandainya, pangkalan yang sudah kena teguran masih ngeyel, maka akan kami tindak lebih tegas, paling tidak berupa teguran lisan hingga ancaman pencabutan izin,” terang dia saat ditemui wartawan di ruang kerjanya belum lama ini.

Lebih lanjut dia mengatakan, berbagai pangkalan Minah yang terkena teguran di antaranya berada di Kecamatan Sragen, Masaran, dan Sidoharjo. Guna menghindari penjualan Minah di atas HET di masa mendatang, pihaknya sudah mengundang agen Minah di Sragen untuk mentaati penetapan HET Minah.

Selanjutnya, sebanyak 235 pangkalan yang terdapat di Sragen juga sudah diberi tahu terkait larangan menjual Minah di atas HET.
“Memang saya akui, menjelang konversi banyak pihak yang ingin mengambil keuntungan. Hal ini membuat kami harus lebih ketat dalam melakukan pemantauan,” ujarnya.

Dia mengatakan, secara umum diakui alokasi Minah dari Pertamina untuk Bumi Sukowati mengalami pengurangan hingga puluhan liter. Pengurangan itu tidak terlepas dari rencana pelaksanaan konversi. Sementara, pelaksanaan konversi sudah mulai berlangsung, utamanya di Kecamatan Karangmalang.

“Kemungkinan besar setelah pelaksanaan konversi, harga Minah mengalami kenaikan lagi. Jadi, monitoring mulai kami lakukan sejak dini untuk menghindari berbagai hal yang tidak diinginkan,” ulasnya.

Terpisah, menurut penjual Minah dari Tangkil, Sragen, Sukimin, 42, sejak bergulirnya isu konversi keberadaan Minah diakui sulit untuk didapatkan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya tingkat persaingan penentuan harga di tingkat pengecer.

“Terkadang memang harganya mencapai Rp 4.000-an per liter. Rencananya, sekalipun pelaksanaan konversi sudah mulai dilakukan di Sragen, namun ke depan saya tetap akan menjual Minah. Alasannya, Minah lebih menguntungkan dibandingkan gas,” pungkas dia.

pso

lowogan pekerjaan
Supervisor Produksi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….