Kamis, 21 Mei 2009 19:00 WIB Klaten Share :

Marsma Harsono bersemayam satu liang dengan isteri

Klaten (Espos)–Mendung kecil seolah menggantung di langit Dusun Sudimoro, Desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko, Klaten, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (21/5) siang. Di salah satu rumah penduduk, tepatnya milik H Sapardi Pujo Harjono, 70, ratusan personel TNI Angkatan Udara (AU) terlihat siaga.

Sebagian lain pasukan tampak hilir mudik di sekitar rumah sederhana itu. Di ruang utama rumah sederhana berbahan kayu itu belasan orang sedang duduk bersimpuh. Di bagian tengah ruang terlihat dua peti mati yang berisi jenazah Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Pangkosekhanudnas) IV Biak, Papua, Alm Marsekal Pertama TNI Harsono SSos, 51, dan isteri, Almarhumah Dati Wulandari, 43.

Sesekali terdengar isak tangis tertahan dari para pelayat sehingga menciptakan nuansa pilu mengiris hati. Sementara H Sapardi Pujo Harjono bersama isteri Suharni, 68, duduk tenang di pinggir ruang. Sorot mata mereka kalem seperti sedang kelelahan. Sementara ketiga cucu H Sapardi dan Suharni dari pasangan Harsono dan Dati Wulandari yakni Letda Pramudya Bayu Murti, Pradipta Dewangga Murti juga Prabandari Sonia Murti seperti saling berpelukkan seolah saling menguatkan.

Si bungsu, Prabandari Sonia Murti yang masih duduk di kelas IV sekolah dasar (SD) begitu sedih. Air mata mengalir lancar dari dua buah bola matanya yang bening. Kedua kakaknya dengan sabar menenangkan Sonia. Ketiga yatim piatu tersebut terus saja bersama selama proses pemakaman ibu-bapak mereka.

Ditemani salah satu kerabat, ketiga anak Alm Harsono mengikuti setiap tahapan pemakaman mulai penggotongan jenazah menuju liang kubur, tabur bunga hingga menguruk jenazah. Begitu juga H Sapardi dan Suharni tak melepas kepergian selamnya anak mereka hingga proses pemakaman rampung.

“Tidak ada firasat apa pun. Saat bertemu terakhir dengan anak saya dia juga tidak berpesan apa-apa,” ujar H Sapardi saat ditemui wartawan seusai pemakaman. Sedangkan langkah penguburan jenazah Harsono dalam satu liang kubur dengan sang isteri, Dati Wulandari menurut dia merupakan keputusan keluarga. Ditanya mengenai dari mana mengetahui anak pertamanya dari sembilan bersaudara meninggal, Sapardi mengaku diberitahu oleh adik sepupunya.

“Saat itu adik sepupu saya datang ke rumah dan mengabarkan ada kecelakaan pesawat Hercules Jenis C-130. Dua korban diantaranya bernama Harsono dan Dati Wulandari yang adalah anak saya. Mudah-mudahan mereka diterima di sisi Tuhan,” pungkasnya kalem.

kur

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…