Selasa, 19 Mei 2009 19:30 WIB Feature,Sragen Share :

Selesai dibangun, bangunan bangsal RSUD retak

Selesai dibangun, bangunan bangsal RSUD retakSragen (Espos)–Bangunan Ruang Sakura bangsal kelas III Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sragen yang belum lama rampung dibangun mendadak retak, Selasa (19/5).  Akibatnya, bangunan senilai Rp 770 juta yang berada di belakang kompleks RSUD ini sempat membuat panik. Bahkan, sebanyak lima pasien yang sedang dirawat di bangsal tersebut terpaksa dipindahkan ke bangsal lain. Peristiwa retaknya bangunan bangsal baru yang dipakai untuk rawat inap pasien asuransi kesehatan miskin (Askeskin) ini terjadi sekitar pukul 07.00 WIB, saat situasi RSUD sedang ramai.

Bangsal berkapasitas 25 pasien ini sudah dipakai untuk merawat sebanyak lima pasien Askeskin. Suara keras yang ditimbulkan akibat retaknya bangunan sempat membuat pasien, perawat maupun keluarga yang sedang menunggu panik. Petugas RSUD yang juga ikut panik kemudian memindahkan para pasien ke bangsal lain untuk keamanan.  “Kami langsung memindahkan pasien ke bangsal lain yang lebih aman. Kami tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Wakil Direktur Umum RSUD Sragen, Agus Atmanto kepada wartawan.

Menurut Agus, bangunan bangsal baru berukuran 10 x 34 meter ini memang diperuntukkan khusus bagi pasien Askeskin. Bangsal baru itu dibangun berkapasitas menampung 25 pasien rawat inap. Dan, lanjutnya, saat ini baru diisi lima pasien. Menurut Agus, pelaksanaan pembangunan bangsal itu sebenarnya tidak ada masalah. Seluruh tahapan, proses dan kualitas bangunan sudah sesuai dengan detail engineering design (DED).

“Retaknya bangunan ini lebih karena faktor cuaca yang menyebabkan besi penyangga ngolet. Dan ini masih dalam masa pemeliharaan oleh rekanan,” ujarnya.  Sementara, Direktur CV Garuda Perkasa, Musthofa selaku pihak rekanan yang mengerjakan proyek tersebut mengaku siap bertanggungjawab atas keretakan bangunan yang terjadi. Bahkan dia siap melakukan perbaikan dalam waktu dua hari ke depan.  “Karena ini masih dalam masa pemeliharaan, maka kami siap memperbaiki. Kebetulan saja ini hanya halangan kecil dan butuh waktu sebentar untuk memperbaiki,” ujarnya.

Menurut Musthofa, retaknya bangunan bangsal yang digarapnya ini dikarenakan faktor rangka besi yang menjadi tiang penyangga bangunan mengembang atau ngolet. Rangka besi yang mengembang ini dimungkinkan karena bertambahnya beban akibat perubahan cuaca.  “Karena cuaca sering berubah kadang panas dan hujan maka otomatis suhu udara juga ikut berubah. Perubahan suhu inilah yang bisa menyebabkan besi kuda-kuda jadi mengembang,” ujarnya.

Meski berdalih adanya perubahan cuaca, Musthofa mengaku proyek yang dikerjakannya ini sudah sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan. Tentang teknis perbaikan yang akan dilakukan atas proyek yang didanai dari APBN ini tentunya akan dilakukan dengan melihat secara spesifik lebih dulu mana bagian yang rusak. Yang jelas  Musthofa memperkirakan perbaikan bangunan ini paling banyak hanya dibutuhkan dana sekitar Rp 10 juta.  isw/pso

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…