Selasa, 31 Maret 2009 21:11 WIB Solo Share :

Pasien PKMS terkendala minimnya ruang ICU

Solo (Espos)–Sejumlah pasien yang memiliki kartu Program Kesehatan Masyarakat Solo (PKMS) terkendala minimnya ruangan intensive care unit (IC) yang ada di masing-masing rumah sakit.

Kondisi tersebut membuat banyak pasien miskin tak bisa memanfaatkan kartu PKMS atau Jamkesmas lantaran terbatasnya ruang ICU.

Pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Sewu (LPMK), Hadi Sutrisno menjelaskan, dari sekian keluhan warga pemegang kartu PKMS selama ini ialah soal terbatasnya ruang ICU di rumah sakit.

Padahal, biaya perawatan pasien di ruang ICU jauh lebih tinggi ketimbang di ruang bangsal kelas III umumnya. “Dulu saya mengkritik minimnya bangsal pasien PKMS atau Jamkesmas. Hasilnya, sekarang bangsal sudah tercukupi dan tak ada keluhan lagi. Sekarang, malah keluhan soal minimnya ruang ICU untuk pasien PKMS,” terangnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, pihaknya bahkan pernah membawa pasien PKMS ke rumah sakit di Klaten, lantraan semua ruang ICU rumah sakit di Solo sudah tak tersedia lagi alias penuh.

“Namanya pasien kritis, masak mau ditunda dulu pengobatannya. Meski terpaksa kami larikan ke Klaten, yang penting tertolong dulu. Lha semua rumah sakit di Solo penuh semua ruang ICU-nya,” paparnya.

Dia menyebutkan, sejumlah rumah sakit yang pernah ia kunjungi dengan kondisi ruangan ICU yang overload antara lain RS Dr Oen, PKU, Panti Waluyo, maupun RSUD Dr Moewardi Solo.

Sementara itu, penelusuran Espos di RSUD Dr Moewardi Solo, hanya menyediakan sepuluh bangsal kamar tidur untuk ruang ICU. Jumlah itu pun sudah termasuk untuk pasien umum, VIP maupun untuk yang kelas III.

Dokter yang bertugas di ruang ICU RSUD Dr Moewardi Solo, Dr Eko Setiawan menjelaskan, dengan jumlah bangsal yang hanya sepuluh itu diakui memang tak sedikit pasien yang antre. Bahkan, lantaran saking banyaknya pasien yang harus mendapatkan perawatan darurat di ICU, pihaknya juga menyarankan pasien agar dikirim ke RS di luar Solo, seperti Karanganyar.

Oleh: Aries Susanto

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…